Karya Ilmiah Cerpen

BAB I   PENDAHULUAN

      A. Latar Belakang Masalah

Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhamad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an.

Diera modern sekarang ini, tema – tema dalam penulisan cerpen sudah sangat berfariasi dan beragam. Bukan hanya tema, jumlah pengarang atau penulis novel pun dapat dikatakan tidak sedikit lagi. Berfariasinya tema dalam cerpen, secara tidak langsung berakibat pada meningkatnya jumlah pembaca ataupun peminat bacaan-bacaan cerpen.

Akan tetapi, pasti ada sebagian diantara Anda yang belum mengetahui tentang cerpen. Bagaimana ciri-ciri cerpen ? Bagaimana unsur-unsur cerpen, dan banyak lagi. Sehubungan dengan hal tersebut, karya tulis ini akan membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah yang dimaksud dengan cerpen?
  2. Bagaimanakah cara penulisan cerpen yang baik dan benar?
  3. Apa sajakah unsur-unsur yang ada dalam cerpen?
  4. Apa sajakah ciri-ciri cerpen?
  5. Nilai-nilai apa sajakah yang kita dapatkan dalam pembacaan cerpen?

C. Ruang Lingkup

Didalam pembuatan karya tulis ini kami akan membahas mengenai defenisi cerpen. Kami juga akan membahas mengenai beberapa hal, yaitu :

  1. Ciri-ciri yang terdapat pada cerpen.
  2. Unsur-unsur yang ada pada cerpen.
  3. Cara-cara penulisan cerpen yang baik dan benar.
  4. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerpen
  5. Membaca Cerpen

D. Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang yang menjadi alasan kami membuat karya ilmiah ini, kami menyusun karya ilmiah ini dengan tujuan untuk:

  1. Memberitahukan kepada pembaca menganai pengertian cerpen, ciri cerpen, unsur cerpen, cara menulis cerpen dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen.
    1. Menumbuhkan minat pembaca tentang karya sastra khususnya cerpen.
    2. Untuk melengkapi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia.

E.  Manfaat Penulisan

Kami mengharapkan agar para pembaca dapat memperoleh manfaat setelah membaca karya tulis ini. Manfaat-manfaat tersebut diantaranya:

  1. Menambah pengetahuan pembaca mengenai karya sastra terutama tentang cerpen.
  2. Sebagai sumber referensi bagi para siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas Bahasa Indonesia khususnya yang berhubungan dengan cerpen.

F.  Metode Penulisan

Dalam membuat karya ilmiah ini, kami menggunakan metode studi pustaka dan studi internet. Kami mempelajari beberapa buku referensi dan beberapa bacaan di internet yang sesuai dengan permasalahan yang kami bahas dalam karya ilmiah ini.

G. Sistematika Penulisan

Bab I PENDAHULUAN

Bab pertama ini terdiri atas beberapa subbab, yang meliputi: latar belakang, perumusan masalah, ruang lingkup, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II PEMBAHASAN

Bagian pembahasan ini meliputi: pengertian cerpen, ciri-ciri cerpen, unsur-unsur cerpen, menulis cerpen, dan nilai-nilai dalam cerpen.

BAB III PENUTUP

Pada bab terakhir ini terdapat dua subbab, yaitu sebagai berikut: kesimpulan dan saran.

BAB II   PEMBAHASAN

       A. Pengertian Cerpen

Cerpen atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah short story merupakan salah satu genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting sejarah penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhammad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an.

Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10000 kata) yang memberikan kesan tunggal dan dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika (1988:165).

Menurut Phyllis Duganne, seorang wanita penulis dari Amerika, cerpen ialah susunan kalimat yang merupakan cerita yang mempunyai awal, bagian tengah, dan akhir. Semua cerpen mempunyai tema, yakni inti cerita atau gagasan yang ingin diucapkan cerita itu. Seperti halnya penamaannya, cerita pendek, cerpen ialah bentuk cerita yang dapat dibaca tuntas dalam sekali duduk.

Sedangkan menurut Susanto dalam Tarigan (1984:176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

Sementara itu, Sumardjo dan Saini (1997:37) mengatakan cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).

Dari pengertian diatas maka kami menyimpulkan bahwa cerpen adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian pada bagian akhir  (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).

 

 

 

B. Ciri-Ciri Cerpen

Secara umum ciri-ciri cerpen meliputi:

∞ dibaca sekali duduk (1-2 jam),

∞ panjang cerita kurang dari  kata sepuluh ribu kata,

∞ ceritanya singkat dan padat,

∞ menggambarkan sebagian kehidupan tokoh,

∞ menggunakan alur tunggal,

∞ sumber cerita dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, dan

∞ ceritanya kurang kompleks dibandingkan dengan novel.

Ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997:36) sebagai berikut.

∞ ceritanya pendek,

∞ bersifat rekaan (fiction),

∞ bersifat naratif, dan

∞ memiliki kesan tunggal.

Pendapat lain juga dikemukakan pula oleh Lubis dalam Tarigan (1985:177) sebagai berikut.

∞  Cerita pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung,

∞  Dalam sebuah cerita pendek terdapat sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita,

∞ Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama, dan

∞  Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.

Menurut Morris dalam Tarigan (1985:177), ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut.

∞  Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unuty, and intensity),

∞  Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, tokoh dan gerak (scene, character and action), dan

∞  Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif dan menarik perhatian (incicive, suggestive and alert).

 

C. Unsur-Unsur Cerpen

1. Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat.

Berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur tersebut.

  a. Tokoh dan Karakter Tokoh

Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejahwantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protaginis.

Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen, diantaranya sebagai berikut.

»  Melalui apa yang diperbuat tokoh.

Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan.

Contoh:

Dengan terburu-buru Wei meninggalkan kota, dan peristiwa itu tak lama kemudian sudah terlupakan. Ia lantas pergi ke barat, ke ibu kota, dan karena dikecewakan oleh pinangan terakhir yang gagal itu, ia mengesampingkan pikirannya dari hal perkawinan. Tiga tahun kemudian, ia berhasil meminang keluarga Tan yang terkenal kebaikannya di dalam masyarakat.

(Cerpen “Sekar dan Gadisnya”, Ryke L.)

» Melalui ucapan-ucapan tokoh.

Dari apa yang diucapkan tokoh, kita dapat mengetahui karakternya.

Contoh:

“Apa yang tidak Ibu berikan kepadamu? Ibu bekerja keras supaya bisa menyekolahkanmu. Kau tak punya kewajiban apa-apa selain sekolah dan belajar. Ibu juga tidak pernah melarangmu melakukan apa saja kau sukai. Tapi, mestinya kamu ingat bahwa kewajiban  utamamu adalah belajar. Hargai sedikit jerih payah Ibu!” Diluar dugaanya anak itu menatapnya dengan berani. “Ibu tidak perlu susah payah menghidupu aku kalau Ibu keberatan. Aku bisa saja berhenti sekolah dan tidak usah menjadi tanggungan Ibu lagi.” Darah Sekar, Ibu anak itu serasa naik ke ubun-ubun.

(“Sekar dan Gadisnya”, Ryke L)

» Melalui penjelasan langsung.

Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh.

Contoh:

Memang, sebenarnya, semenjak dia datang, kami sudah membenci dia. Kami membenci bukan karena kami adalah orang-orang yang tidak baik, tapi karena dia selalu menciptakan suasana tidak enak. Perilaku dia sangat kejam. Dalam berburu dia tidak sekedar berusaha untuk membunuh namun menyiksa sebelum akhirnya membunuh. Maka, telah begitu banyak binatang menderita berkepanjangan, sebelum akhirnya dia habiskan dengan kejam. Cara dia makan juga benar-benar rakus. Bukan hanya itu. Dia juga suka mabuk-mabukan. Apabila dia sudah mabuk, maka dia menciptakan suasana yang benar-benar meresahkan dan memalukan. Dia sering meneriakkan kata-kata kotor, cabul, dan menjijikan.

(Cerpen “Derabat”, Budi Darma)

» Melalui penggambaran fisik tokoh

» Melalui pikiran-pikirannya

b. Latar (setting)

Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis pada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapar dibedakan kedalam tiga pokok unsur, yaitu sebagai berikut:

» Latar Tempat

Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.

» Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

» Latar Sosial

Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.

  c. Alur (Plot)

Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab-akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita.

Tahapan alur dalam sebuah cerita dibagi atas beberapa bagian sebagai berikut.

- Pengantar: tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.

- Penampilan masalah: Tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik. Konflik itu sendiri akan berkembang menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya. Peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangkan.

- Puncak ketegangan/ klimaks: konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai tilik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh-tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderitaan terjadinya terjadinya konflik utama.

- Ketegangan menurun/ antiklimaks: Konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian. Keteganagn dikendurkan. Konflik-konflik tambahan (jika ada) juga diberi jalan keluar, kemudian cerita diakhiri. Tahap ini disesuaikan dengan tahap akhir diatas.

- Penyelesaian/ resolusi: pada tahap ini konflik telah diatasi atau diselesaikan oleh para tokoh. Cerita dapat diakhiri dengan gembira (happy ending) atau sedih (sad ending)

Di dalam cerpen, dikenal tiga jenis alur yaitu sebagai berikut.

»   Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari Perkenalan sampai penyelesaian.

»   Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah, kemudian menengok kembali pada peristiwa yang mendahuluinya. Susunan yang  demikian disebut alur sorot balik (flash back).

» Pengarang dapat pula menggunakan alur campuran, yaitu perpaduan antara alur maju dan alur mundur.

Selain itu, ada juga istilah alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat menggangu keutuhan cerita. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu, sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita.

  d. Sudut Pandang (Point Of View)

Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:

» Sudut pandangan orang pertama; Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Disini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya” nya.

»  Sudut pandang orang ketiga; Biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia” atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya seperti “Fajar”, “Rajab”, “Agung” dan lain-lain.

» Sudut pandang campuran; Dimana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda”, Nasjah Djamin sangat baik menggunakan tekhnik ini.

»  Sudut pandangan yang berkuasa; Merupakan tekhnik yang menggunakan kekuasaan untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudup pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pangangan ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para punjaga Balai Pustaka banyak yang menggunakan tekhnik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.

  e. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas, dan penghematan kata.Jadi, gaya bahasa merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya.

  f. Tema

Tema disebut juga ide cerita. Tema dapar berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Dalam sebuah cerpen tema bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita. Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.

Cerpen yang baik dan besar biasanya menyajikan berbagai persoalan yang kompleks. Namun selalu punya pusat tema, yaitu pokok masalah yang mendominasi masalah lainnya dalam cerita itu. Misalnya cerpen “Salju Kapas Putih” karya Satyagraha Hoerip. Cerpen ini melukiskan pengalaman “aku” di negeri asing dengan baik sekali, tetapi secara tajam cerpen ini menyorot masalah moral. Tokoh “aku” dapat bertahan dari godaan berbuat serong karena pertimbangan moral.

  g. Amanat

Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita.

2.  Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang menunjang karya sastra yang berasal dari luar karya sastra itu sendiri, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik adalah sebagai berikut:

1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup.

2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra.

3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.

4. Pandangan hidup,suatu bangsa dan berbagai karya seni lainnya.

D. Menulis Cerpen

Siapa bilang, menulis cerpen itu sulit. Banyak yang tidak bisa menulis pada akhirnya mampu mengalirkan idenya dengan mengalir begitu saja. Mungkin bagi Anda menulis cerpen itu sulit karena Anda tidak tahu cara-cara penulisan cerpen yang baik.

Walaupun kelihatannya sepele, menulis cerpen juga ada tekhniknya. Berikut adalah tekhnik dalam penulisan cerpen.

1.  Tanamkan Sugesti Untuk Menulis Cerpen

Menulis cerpen tidak sama sulitnya seperti Anda meminum puyer, bayangkan menukis itu sama seperti Anda menikmati sebatang coklat yang lezat. Pasti Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda di dalamnya. Berikut adalah sugesti yang dapat ditanamkan dalam diri Anda tentang menulis.

  1. Biasakanlah tangan untuk mengetik atau menulis terlebih dahulu. Menulis apa saja. Jangan pernah ragu untuk menulis sesuatu itu. Anggap saja hasil tulisan hanya anda yang membaca, sehingga Anda tidak perlu ragu untuk memulainya.
  2. Camkan dalam diri kalau, kalau Anda adalah seorang penulis. Camkan pula dalam diri, bahwa Anda bisa menulis. Sugesti inilah yang nantinya akan membawa Anda menjadi mencintai tulisan. Buatlah target-target yang membahagiakan untuk Anda.
  3. Menulis itu sama seperti Anda berbicara. Jadi anggap saja, ketika menulis cerpen saat itu Anda sedang berbicara. Misalnya, Anda ingin menceritakan kejadian pengalaman dikejar anjing. Tulis dari langkah pertama sebelum kejadian, sampai kejadian itu berakhir.
  4. Tanamkan dalam diri, suatu hari nanti Anda akan jadi penulis hebat. Idolakan seorang penulis terkenal, dan buat ia sebagai motivasi Anda. Bayangkan suatu saat Anda akan seperti dia.

Untuk penulisan awal, tidak usah peduli dengan EYD, tulis semua hal yang ingin Anda tulis sampai habis. Untuk pengoreksian, Anda bisa melakukannya jika tulisan benar-benar sudah jadi.

Menulis adalah sebuah proses ide kreatif. Anda tidak akan sukses dengan hanya membuat sebuah cerita. Sering-seringlah menulis maka Anda akan semakin kreatif.

 

 

 

2.  Langkah-Langkah Menulis Cerpen

  1. Tentukan tema cerpen, tema adalah hal yang paling mendasar jika Anda ingin membuat sebuah tulisan.
  2. Jika cerpen Anda berlatar belakang sejarah, atau bersetting daerah. Jangan lupa untuk mengumpulkan data-data, keterangan atau informasi yang berhubungan dengan cerpen tersebut.
  3. Tentukan tokoh yang terlibat dalam cerpen tersebut.
  4. Tentukan setting cerita, setting adalah tempat dimana cerpen itu dikisahkan.
  5. Tentukan alur atau plot cerita.
  6. Kembangkanlah cerita tersebut secara utuh.
  7. Periksa ejaan diksi dan unsur-unsur kebahasaan dalam cerita tersebut.

3.  Membuat Cerpen Agar Menarik

Jika Anda sudah terbiasa dalam menulis cerpen, pasti akan bertanya-tanya apakah cerpen Anda menarik atau tidak, jangan pernah ragu untuk meminta kritik pada orang lain berkenaan dengan cerpen Anda. Tips dibawah ini akan membantu Anda untik menghasilkan cerita yang menarik.

  1. Perbaiki cerpen Anda berdasarkan saran dan kritik dari seorang teman, cuek saja dengan berbagai macam kritik, toh nantinya itu adalah masukan untuk cerpen Anda kedepan.
  2. Jangan pernah kehabisan dengan ide cerita, karena ide cerita itu sangat banyak disekeliling kita. Anda bisa menceritakan kejadian hari ini, kejadian teman, atau kisah yang mungkin saja tidak akan bisa terjadi (khayalan dan fiktif).
  3. Banyak membaca, membaca akan membantu Anda dalam memperkaya diksi.
  4. Setelah Anda menulis cerpen, jangan langsung diperbaiki. Selesai ditulis simpan saja dahulu. Setelah itu diamkan selama seminggu, sembari menunggu, buatlah cerpen yang lain. Karena seringnya Anda menulis akan semakin membuat imajinasi Anda berkembang. Setelah seminggu, coba buka kembali cerpen yang pernah Anda tulis, pasti Anda akan menemukan tulisan yang berbeda dari sebelumnya.

E. Nilai-Nilai Dalam Cerpen

 

Cerita pendek atau cerpen tidak hanya berisi rangkaian peristiwa. Ada hal penting yang disampaikan pembaca. Dalam cerpen seorang pengarang kadang menampilkan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalam masyarakat. Hal tersebut diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman hidup pembaca. Pembaca cerpen menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan sekitar. Nilai kehidupan dapat ditemukan dalam cerpen melalui ucapan, pikiran, tindakan dan perasaan tokoh-tokoh cerita. Dibawah ini adalah beberapa nilai yang terdapat dalam cerpen.

1.  Nilai Moral

Secara umum, moral atau amanat dalam cerpen menyarankan pada pengertian baik buruk yang diterima umum mengenai suatu perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Dalam hal ini, nilai-nilai dalam karya cerpen berhubungan dengan budi pekerti, susila atau akhlak. Moral dalam kata cerpen biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sebuah cerpen ditulis untuk menggambarkan model kehidupan yang diidealkannya. Fiksi mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh. Dalam karya cerpen, pesan moral berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat.

2. Nilai Sosial

Nilai-nilai yang timbul dalam cerpen dilihat dari unsur sosialnya adalah:

  1. a.    tokoh-tokoh yang diciptakan sebagai pelaku sosial
  2. keadaan ekonomi yang menggerakkan elemen sosial (simbol sosial)
  3. c.    konflik yang dibangun antartokoh sehingga cerita terasa secara utuh dan mimesis kehidupan
  4. d.   idiologi tokoh-tokohnya
  5. e.   sejarah perkembangan manusia yang dilihat digambarkan dalam cerita

 

 

3. Nilai Budaya

Nilai-nilai kebudayaan terdapat dalam cerpen sebagai pembangun tema, karakter tokoh, latar, alur dan amanat. Nilai-nilai budaya yang biasa ditemukan berupa:

  1. nilai kepercayaan manusia kepada Tuhannya,
  2. nilai kebiasaan dalam bentuk kolektif atau ketradisian,
  3. nilai kemanusiaan sebagai alat bermasyarakat,
  4. sikap berkomunikasi dalam mengkomunikasikan peradaban,
  5. nilai estetika sebagai pencipta berkesenian,
  6. nilai penghidupan untuk mempertahankan kehidupan,
  7. nilai peradaban dan alat yang diciptakannya, dan
  8. nilai politis sebagai alat bernegara.

 

F.  Membaca Cerpen

 

Kereta Raksasa

Karya Dasmo Rahardiyanto

Malam dingin menggigil. Udara terasa membekukan sendi-sendiku. Angin yang berhembus disetai derasnya hujan, membuat malam semakin terasa keparat. Gemercik air hujan terdengar berjatuhan membentuk simfoni alam yang menggelisahkan. Kecuali suara kodok yang menggelisahkan, tak terdengar binatang malam yang berbunyi. Aku duduk termangu terjebak hujan di sebuah stasiun. Hujan seperti tumpah. Malas rasanya aku pulang berhujan-hujan.

Kunyalakan sebatang rokok. Kuhisap dalam-dalam sambil kusandarkan badanku pada salah satu kursi fiber yang berjejer di halaman stasiun itu. Hah, lelah betul aku hari ini, gerutuku. Sebagai karyawan kecil di sebuah perusahaan swasta, seharian bekerja selalu membawa dan menyisahkan kelelahan luar biasa. Tidak jarang pula membawa pulang sakit hati dan menjemukan, dan kesengsaraan yang seperti mengolok-olok nasib wong cilik. Apakah kesalahanku sama dengan stasiun ini? Stasiun yang sudah tua, kelihatan pucat ditelan masa. Renta, jorok, tidak terawat. Sosoknya yang dulu barangkali gagah, kini lemas kedinginan, berantakan.

Hujan semakin deras. Suara kereta terdengar menderu dari kejauhan. Tak lama kemudian kulihat kereta yang padat siap memuntahkan penumpangnya yang berjejalan, lalu serabutan menyerbu dan memasuki stasiun. Pengeras suara mewartakan jalur yang akan dilintasi kereta itu. Belun juga kereta itu berhenti benar, para penumpang berhamburan dari dalamnya. Muntahan kereta itu tumpah-ruah memenuhi peron. Suara derap sepatu dari para penumpang segera memecah kesunyian. Wajah-wajah lelah, bau busuk keringat, dan pakaian yang lusuh, seperti berseliweran mengganggu mataku.

Diantara temeran lampu-lampu yang menyinari stasiun, kudengar deru mobil sekali-sekali melintas di bawah air hujan. Sementara itu,beberapa meter dari tempatku duduk, sekelompok orang sedang asyik ngobrol di loket penjualan karcis.

Tepat di atas kepalaku tergantung sebuah tulisan yang tidak jelas hurufnya terbuat dari seng, dengan ukuran kira-kira 20 x 30 sentimeter. Bergoyang-goyang terkena hembusan angin. Kadang-kadang berbunyi lesu jika angin besar menghempasnya.

Tempat duduk berderet di sepanjang stasiun. Di atas deretan tempat duduk itu, kokoh terbentang atap seng sebagai pelindungnya. Semua penyangga dan tiangnya terbuat dari besi. Tetapi, kurasakan stasiun ini agak berbeda. Tidak seperti waktu pertama kali aku menginjakan kaki di stasiun ini tiga tahun lalu. Cat temboknya tampak sudah muram. Lantainya menggambarkan kejorokan, dan jalanan di sepanjang stasiun becek tergenang air dan lumpur. Sampah yang berserak seperti telah menjadi bagian penting dari kejorokan.

Sejurus pandanganku tertanam pada rel kereta api. Serta merta kereta kembali terdengar. Tampak, lampunya berkedip-kedip dari kejauhan. Selang beberapa menit kelihatanlah kereta api dengan gerbong panjangnya. Astaga ada apa ini! Aku terkejut dan bermaksud hendak lari menjauh. Kulihat si ular besi ini wujudnya menjadi lebih besar dan semakin besar. Ukurannya kira-kira sepuluh kali lipat dari kereta biasa.

Derunya yang bergemuruh dan wujudnya yang besar lagi mengerikan, seakan hendak memakan segala yang ada di depannya. Tanpa bisa ditahan lagi, entah bagaimana tiba-tiba stasiun ditabraknya. Suara dahsyat yang luar biasa kerasnya, memecahkan telingaku. Kereta tergelincir dan ambruk menyeruduk stasiun. Suara berderak-derak dan kacau terdengar ditimpali beberapa ledakan. Stasiun hancur seketika, sementara kereta harus menggerus semua benda yang menghalanginya. Api menyala di sepanjang stasiun. Jeritan dan teriakan memekik menjadi sungguh-sungguh menciptakan kengerian yang tak terperikan.

Dalam situasi seperti itu, aku terpana diantara bengong, ketidakpercayaan, dan ketakutan pada penglihatanku sendiri. Tangan dan kakiku gemetar. Nafas seakan terputus seketika itu. Kulihat di sekelilingku, orang berlarian lintang pukang. Apakah ini kiamat?

“Tolong! Tolong!” Suara orang menjerit-jerit terdengar jelas ditengah hiruk pikuk dan teriakan histeris. Masih ada orang hidup, pikirku cepat. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku nekat mendekati suara itu.

Tampak di depanku seorang wanita tua terjepit diantara reruntuhan. Besi-besi yang menghimpitnya membuat ia tak berdaya. Wajahnya kacau, sementara matanya tampak sedang meradang maut.

Aku segera menghampirinya. Entah dapat kekuatan dari mana tiba-tiba saja badanku yang tadi lemas, kini segar kembali. Dan luar biasa! Tenaganya seperti datang berlipat-lipat ganda. Dengan enteng kubengkokkan besi yang menghimpit wanita itu. Aku tak menyangka mempunyai kekuatan seperti ini. Diluar dugaan aku berhasil menarik keluar wanita tua itu dari reruntuhan.

Setelah berhasil keselamatkan, tampak tubuhnya bergetar. Mulutnya menganga. Nafasnya berat terengah-engah. Sedang sekaratkah, pikirku. Dan tak lama kemudian dia diam. Kugoyang-goyangkan kepalanya. Tetapi ia tetap diam. Badannya terasa makin dingin. Inilah kematian yang mengenaskan!

Tak seberapa jauh dari situ kulihat kapala yang lepas dari badannya. Darahnya mengalir. Rasanya aku ingin berlari seketika itu juga. Mengerikan sekali! Aku terus mencari korban yang mungkin masih hidup.

Di antara langkahku yang tergesa-gesa, kulihat korban-korban bergelimpangan dimana-mana. Tiba-tiba saja ada yang menabrakku dari belakang. Aku jatuh dan tersungkur. Aku kaget. Kemudian, aku bangun. Kulihat sesosok tubuh terkapar. Sembari menangis perempuan tua itu mencoba bangkit. Kuangkat tubuhnya. Terlihat olehku mata orang ini berlumuran darah.

Suasana stasiun kini menjadi lebih kacau. Orang-orang berdatangan. Seperti halnya aku, mereka mencari korban yang ada di reruntuhan stasiun dan besi-besi kereta. Tak jarang terdengar suara jeritan dan ketakutan. Di antara mereka ada yang mengais-ngais potongan-potongan tubuh korban atau menyeret korban yang tewas.

Hujan masih saja turun. Suasana duka terasa menyelimuti stasiun ini. Dari kejauhan kudengar suara raungan mobil ambulans dan pemadam kebakaran. Para korban dilempar begitu saja kedalam mobil ambulans. Mereka yang masih hidup dilarikan segera. Sementara yang meninggal dijejerkan di tempat yang agak terbuka. Suara tangis, rintihan dan hiruk-pikuk yang tak jelas, terdengar di sana-sini dan terus memekakkan telinga.

Sekali-kali kulihat kaki, tangan dan bahkan kepala bergelimpangan. Darahnya tampak masih segar. Tak terbayangkan betapa shocknya aku pada saat itu. Mengapa hal ini bisa kusaksikan? Rasanya aku tak mempercayainya segala yang kulihat ini.

Hujan sudah mulai reda. Di beberapa bagian peron stasiun tampak orang masih berkerumun, ada juga yang terus mencari korban. Setelah berapa lama, terdengar lagi suara kereta dari kejauhan. Kami pun tersentak kaget. Tidak menyangka dalam situasi porak-poranda seperti ini, masih juga ada kereta yang mau melintas stasiun ini. Seharusnya jalur kereta ditutup untuk sementara, pikirku. Kami berlari tak tentu arah.suasana menjadi semakin kacau. Aku tak lagi mempedulikan para korban. Orang-orang yang tadi ikut membantu para korban, segera berlari menyelamatkan diri.

Dari kejauhan kulihat kereta melaju dengan kencang dari arah berlawanan dengan kereta yang tadi menabrak. Anehnya, kereta itu berjalan tidak melewati stasiun, melainkan melintas menuju ke arah reruntuhan kereta yang tadi. Secara refleks, aku melompat dan berlari tidak tentu arah. Suara teriakan dan jeritan tak terelakkan lagi. Kutengok ke belakang. Kulihat kereta sudah semakin dekat. Aku tersungkur, tak kuasa lagi berlari. Tetapi, masih sempat aku menjerit sekencangnya sebelum sesuatu terjadi atas diriku.

“Bang! Ada apa?” Sekonyong-konyong seseorang menegurku. Aku tersadar dan gelagapan.

“Oh, tidak …! Tidak apa-apa!” Jawabku sekenanya.

Orang itu pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku masih bingung. Kulihat stasiun yang tadi hancur ternyata masih utuh. Kuperiksa anggota badanku, tidak apa-apa, juga tidak mengalami luka apapun. Lalu, bagaimana dengan peristiwa tadi?

Setengah sadar, aku beranjak bangun. Setengah berlari kutinggalkan stasiun tanpa kuasa lagi menepis sisa mimpi yang masih terasa mengejarku.

       Dikutip dengan pengubahan seperlunya

untuk keperluan pembelajaran

 

 BAB III   PENUTUP

       A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, kami menarik berbagai kesimpulan yaitu sebagai berikut.

1. Cerpen adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian pada bagian akhir  (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).

2. Secara umum ciri-ciri cerpen meliputi:

∞ dibaca sekali duduk (1-2 jam),

∞ panjang cerita kurang dari 10.000 kata,

∞ ceritanya singkat dan padat,

∞ menggambarkan sebagian kehidupan tokoh,

∞ menggunakan alur tunggal,

∞ sumber cerita dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, dan

∞ ceritanya kurang kompleks dibandingkan dengan novel.

3.  Unsur intrinsik dalam karya sastra khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat. Sedangkan yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik adalah sebagai berikut:

  1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup.
  2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra.
  3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.
  4. Pandangan hidup,suatu bangsa dan berbagai karya seni lainnya.

 

 

 

 

4.  Langkah-langkah menulis cerpen adalah sebagai berikut.

  1. Tentukan tema cerpen, tema adalah hal yang paling mendasar jika Anda ingin membuat sebuah tulisan.
  2. Jika cerpen Anda berlatar belakang sejarah, atau bersetting daerah. Jangan lupa untuk mengumpulkan data-data, keterangan atau informasi yang berhubungan dengan cerpen tersebut.
  3. Tentukan tokoh yang terlibat dalam cerpen tersebut
  4. Tentukan setting cerita, setting adalah tempat dimana cerpen itu dikisahkan
  5. Tentukan alur atau plot cerita
  6. Kembangkanlah cerita tersebut secara utuh

5.  Nilai-nilai yang terkandung pada cerpen ada tiga yaitu nilai moral (berhubungan dengan budi pekerti, susila atau akhlak), nilai sosial (nilai yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial), dan nilai budaya (nilai-nilai yang berhubungan dengan kebudayaan).

B. Saran

Dari pembahasan dalam karya ilmiah ini, saran kami adalah sebagai berikut:

  1. Tingkatkanlah intensitas Anda untuk membaca, misalnya membaca cerpen dan bacaan-bacaan lainnya. Banyak manfaat membaca. Selain memperoleh hiburan, dengan dan melalui membaca, seseorang terbuka cakrawala pandangan dan pemikirannya.
  2. Tanamkanlah nilai-nilai baik dalam cerpen ke dalam diri Anda, dengan demikian segala macam yang kita perbuat akan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
  3. Isilah waktu kosong Anda untuk hal-hal yang berguna, misalnya menulis. Banyak manfaat menulis. Untuk menuangkan pikiran kita adalah salah satunya. Selain itu, jika tulisan kita menarik dan diminati banyak orang maka Anda akan memperoleh banyak keuntungan. Disamping itu tulisan Anda juga dapat memotivasi banyak orang.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa karya ilmiah ini masih belum sempurna dan untuk menjadi sempurna kami sangat membutuhkan masukan dari pihak lain. Untuk itu kami mengharapkan kepada semua pihak untuk memberikan berbagai masukan dan kritik demi perbaikan dan kesempurnaan karya ilmiah ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

Cipta Sari, Dhian. 2010. Buku Sakti: Materi dan Rumus Lengkap 6 in 1 kelas XI IPA. Yogyakarta: Kendi Mas Media.

Santoso, Gunawan Budi, dkk. 2009. Terampil Berbahasa Indonesia 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.

Utami, Sri, dkk. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.

Rahma Rahmaantika, Cerpen, 2011, Hal. 1, http://rahmarahmaantika.blogspot.com.

Unsilster, Pengertian Cerpen dan Ciri-Ciri Cerita Pendek, 2011, Hal. 1, http://unsilster.com.

Theron Parlin, Unsur dalam Sebuah Cerpen, 2012, Hal. 1, http://asiaaudiovisualrb09susilo.wordpress.com.

Wikipedia, Cerita Pendek, 2010, Hal. 1-2, http://id.wikipedia.org.

 

Satu pemikiran pada “Karya Ilmiah Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s